Entri Populer

Kamis, 05 Mei 2011

SPATIAL ANALYSE

SPATIAL ANALYSE OF WIDE DETERMINATION OF URBAN FOREST BASED ON OXYGEN AND GREEN OPEN SPACE REQUIREMENT THROUGHT SATELITTE IMAGE (Case Study in Tegal City)

By:
Asep Suheri; Diah Mitarini; Aji Sartono
Abstract

The progression of city often reflected by existence of growth physical only, which its indication are minimalist of open green space, eliminate nature view and many plants area convert to others land use (example building, shopping centre, business centre, residence etc). This research is to analyze development of urban forest in Tegal city based on Oxygen needed. High resolution Quick bird satellite image is used to take land cover area. Then used as research parameter with citizen population, livestock, industrial and vehicle.
Ecology balancing as important as economic value in city, one ways to keep away from negative effect is with urban forest. The result of analysis show that wide of urban forest in Tegal at 2005 is 1138 Ha (29% of Tegal large 3914,68 Ha) with wide of open green space is 1889,38 Ha. Until 2012 urban forest and open green space is in balancing condition.

Keywords : Urban forest, Open green space, Quick bird, Oxygen, land cover area, citizen population, livestock, industrial and vehicle.


I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan dan pembangunan wilayah, perkotaan akan selalu menarik untuk dijadikan tempat beraktifitas manusia. Kompleksnya kegiatan yang ada menjadikan semua matapencaharian dapat hidup dan saling menggantungkan sesamanya. Yang terjadi adalah bahwa kota merupakan basis pemusatan penduduk, Pemusatan aktifitas dan pemusatan pembangunan. Meningkatnya kegiatan ini akan berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan pangan, tempat tinggal dan bahan bakar. Permasalahan lain adalah kendaraan bermotor dan industrialisasi yang mengakibatkan peningkatan jumlah gas buangan CO dan CO2 yang menurunkan kualitas udara hingga mengganggu kesehatan pada makhluk hidup terutama manusia.
Menyadari akan ketidakharmonisan tersebut dan mempertimbangkan dampak negatif yang akan terjadi maka salah satu alternatif yang dilakukan adalah dengan pengembangan hutan kota. Intinya adalah menambah kwantitas lahan bervegetasi yang notabene sebagai penghasil Oksigen.
Ketersediaan luasan hutan kota yang optimal perlu diketahui agar dapat membantu dalam memperkirakan arah pembangunan dan pengembangan hutan kota. Informasi yang tepat, cepat dan efisien sangat membantu dalam perencanaan pembangunan. Pengembangan hutan kota memerlukan perencanaan dan pengelolaan yang baik agar fungsi hutan kota dapat terwujud maksimal.
Penginderaan jauh citra satelit merupakan teknik untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek daerah atau fenomena yang dikaji. Teknologi ini mampu menyediakan data dengan cakupan data yang luas dan Up to date. Di dukung dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) maka perencanaan spasial akan lebih mudah dan cepat dieksekusi dalam pengambilan keputusan. Penggunaan Citra Quick Bird yang mempunyai spasial tinggi telah lama digunakan oleh pemerintah daerah dan perusahaan swasta untuk memetakan sumberdaya karena mampu memberikan keleluasaan dalam membedakan/identifikasi objek sumberdaya alam di wilayahnya secara detail untuk berbagai kepentingan secara manajemen dan teknis.

B. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Memberikan informasi spasial tentang kebutuhan pembangunan hutan kota di Kota Tegal berdasar kebutuhan Oksigennya
2. Mengetahui lokasi yang berpotensi untuk dikembangkan daerah sebagai hutan kota.


C. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini memberikan gambaran mengenai kondisi vegetasi (hutan kota) dalam perencanaan dan pengembangan hutan kota di Kota Tegal.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Citra satelit Quick Bird

Quick Bird merupakan satelit komersil pertama yang menggunakan sensor dengan resolusi spasial tinggi yaitu 2,4 m multispektral (MS) dan 0,6 m pankromatik (PAN). Karateristik citra Quick Bird disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Spesifikasi citra Quick Bird
Waktu Peluncuran 18 Oktober 2001
Lokasi Peluncuran Vandenberg Air Force Base, California dengan roket Boeing Delta II
Resolusi Spasial Pankromatik: 0,61 meter
Multispektral: 2,4 meter
Resolusi Spektral Pankromatik: 0.45 – 0.90 mikron
Multispektral:
B1: Biru 0.45 - 0.52 mikron
B2: Hijau 0.52 – 0.60 mikron
B3: Merah 0.63 – 0.69 mikron
B4: Inframerah dekat 0.76 – 0.90 mikron
Lebar Swath dan ukuran Scene Lebar Swath: 16,5 km pada nadir
Areas of interest: citra tunggal 16,5 km2
Ketinggian (Altitude) 450 km
Inklinasi (Inclination) 97,2 derajat
Frekuensi Pengulangan (Revisit Frequency) 6 – 11 Hari
Tipe Orbit Sun-synchronous
Rentang/Kedalaman Informasi 11 bits
Waktu Orbit 93,5 menit
Sumber: http://www.eurimage.com/Products/qb.shtml

Perusahaan Digital GlobeTM telah berhasil meluncurkan satelit terbaru Penginderaan Jauh Quick Bird pada 18 Oktober 2001 dengan Boeing Delta II di Vandenberg Air Force Base, California. Pada Desember 2000 Digital Globe mendapatkan lisensi dari NOAA untuk mengoperasikan satelit beresolusi spasial 0,5 m. Dengan cara memperbaiki orbit satelitnya Perusahaan ini mampu memodifikasi spasial yang awalnya 1 m menjadi 0,61 m untuk pankromatik dan dari 4 m menjadi 2,44 m untuk multispektral.
Hal ini yang menjadikan Quick Bird sebagai satelit komersil dengan resolusi paling teliti dan menjadi kelebihan utama dari sensor satelit yang lain sampai saat sekarang. Penggunaan citra Quick Bird mampu mengolah informasi spasial dengan kedetailan informasi skala peta 1:1000 – 1:10000 (Skala besar) untuk pengolahan tata ruang tingkat kabupaten, kecamatan ataupun kelurahan.

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam pembuatan peta adalah sejauh mana informasi yang akan dibutuhkan, dan disesuaikan dengan karakteristik citra satelit yang akan digunakan. Untuk informasi yang detail (skala besar) dapat menggunakan citra satelit Quick Bird, Ikonos, dan SPOT. Untuk informasi regional (skala menengah) dapat menggunakan citra satelit SPOT, Aster dan Landsat. Sebagai contoh, untuk pengelolaan yang disesuaikan dengan tata ruang tingkat kabupaten/provinsi dengan informasi skala peta 1:25.000 s.d. 1:100.000.
Untuk informasi global (skala kecil) dapat menggunakan citra satelit NOAA atau Modis. Citra satelit tersebut yang selama ini paling banyak digunakan luas untuk pemerolehan informasi penyebaran titik-titik api dan kebakaran lahan disuatu tempat, keadaan cuaca tentang awal musim dan pola pembentukan awan dan hujan.

B. Hutan Kota

1. Pengertian Hutan Kota

Hutan Kota (Urban Forest) adalah suatu hutan yang keberadaannya ada didalam kota, di sekitar pinggiran kota atau didalam daerah-daerah pusat pemukiman yang berkembang karena proses urbanisasi. Hutan kota merupakan cabang khusus dari hutan yang pengelolaannya melalui pendekatan multidisiplin dan dikembangkan secara intensif di dalam daerah perkotaan untuk keuntungan dan kepentingan warga kota (Suandi, 1987 dalam Dahlan, 2002). Pendekatan pengertian yang dipakai dalam hal ini adalah bahwa hutan kota merupakan bagian dari suatu kota dimana luasan ditentukan dengan perhitungan perkapita berdasar jumlah penduduk dan kebutuhan Oksigennya.
Hutan Kota merupakan bagian dari program Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dimana Ruang Terbuka Hijau dinyatakan sebagai ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk mengelompok maupun dalam bentuk memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa adanya bangunan (Instruksi Menteri Dalam Negri No. 14 tahun 1988). Pelaksanaan program pengembangann Ruang Terbuka Hijau dilakukan dengan pengisian hijau tumbuhan secara alamiah ataupun tanaman budidaya seperti pertamanan, pertanian, perkebunan dan sebagainya. Ruang Terbuka Hijau meliputi ruang-ruang di dalam kota yang sudah ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah perkotaan.

2. Tipe Hutan Kota

Ada beberapa tipe Hutan Kota yang sering dijumpai yaitu:
• Tipe Pemukiman • Tipe Pelestarian Plasma Nutfah
• Tipe Kawasan Industri • Tipe Perlindungan dan
• Tipe Rekreasi dan Keindahan • Tipe Pengamanan

Hutan kota yang dibangun pada areal pemukiman bertujuan utama untuk pengelolaan lingkungan pemukiman, maka yang harus dibangun adalah hutan kota dengan tipe pemukiman. Hutan kota tipe ini lebih dititik-beratkan kepada keindahan, penyejukan, penyediaan habitat satwa khususnya burung, dan tempat bermain dan bersantai. Hutan kota di daerah pemukiman dapat berupa taman dengan komposisi tanaman pepohonan yang tinggi dikombinasikan dengan semak dan rerumputan. Dapat pula berupa taman yang diartikan suatu bidang tanah terbuka dengan luasan tertentu di dalamnya ditanam pepohonan, perdu, semak dan rerumputan yang dapat dikombinasikan dengan kreasi dari bahan lainnya.
Kawasan industri yang memiliki kebisingan yang tinggi dan udaranya tercemar maka harus dibangun hutan kota dengan tipe kawasan industri fungsinya sebagai penyerap pencemar, tempat istirahat bagi pekerja, tempat parkir kendaraan dan keindahan. Suatu wilayah perkotaan pada umumnya mempunyai satu atau beberapa kawasan industri. Limbah dari industri dapat berupa partikel, aerosol, gas dan cairan dapat mengganggu kesehatan manusia. Selain dapat menimbulkan masalah kebisingan dan bau yang dapat mengganggu kenyamanan. Beberapa jenis tanaman mempunyai kemampuan dalam menyerap dan menjerat polutan. Informasi akan kemampuan dan ketahanan jenis tanaman terhadap polutan yang dihasilkan oleh suatu pabrik selanjutnya dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih jenis-jenis tanaman yang akan dikembangkan di kawasan industri.
Kota yang memiliki kuantitas air tawar yang sedikit akibat menipisnya jumlah air tanah dangkal dan atau terancam masalah intrusi air laut, maka fungsi hutan yang harus diperhatikan adalah sebagai penyerap, penyimpan dan pemasok air. Maka hutan yang cocok adalah hutan lindung di daerah tangkapan airnya. Hutan kota yang berada di daerah pesisir dapat berguna untuk mengamankan daerah pantai dari gempuran ombak laut yang dapat menghancurkan pantai. Sehingga ancaman bahaya intrusi air laut dapat dikurangi.
Manusia dalam kehidupannya tidak hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah seperti makanan dan minuman, tetapi juga berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohaniahnya, antara lain kebutuhan rekreasi dan kebutuhan keindahan. Rekreasi dapat didefinisikan sebagai setiap kegiatan manusia untuk memanfaatkan waktu luangnya. Rekreasi dapat dibagi menjadi dua golongan yakni; (1) Rekreasi di dalam bangunan (indoor recreation) dan (2) Rekreasi di alam terbuka (outdoor recreation). Rekreasi dalam bangunan dapat mendatangkan pengalaman baru, lebih menyehatkan baik jasmani maupun rohani, serta meningkatkan ketrampilan. Rekreasi pada kawasan hutan kota bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi badan yang sudah penat dan jenuh dengan kegiatan rutin, supaya siap menghadapi tugas yang baru. Untuk mendapatkan kesegaran diperlukan suatu masa istirahat yang terbebas dari proses berpikir yang rutin sambil menikmati sajian alam yang indah, segar dan penuh ketenangan.
Hutan konservasi mengandung tujuan untuk mencegah kerusakan perlindungan dan pelestarian terhadap sumberdaya alam. Bentuk hutan kota yang memenuhi kriteria ini antara lain; kebun raya, hutan raya dan kebun binatang. Ada dua sasaran pembangunan hutan kota untuk pelestarian plasma nutfah yaitu; Sebagai tempat koleksi plasma nutfah, khususnya vegetasi secara ex-situ. Dan sebagai habitat, khususnya untuk satwa yang akan dilindungi atau dikembangkan.
Hutan kota dapat diarahkan kepada penyediaan habitat burung dan satwa lainnya. Suatu kota sering kali mempunyai kekhasan dalam satwa tertentu, khususnya burung yang perlu diperhatikan kelestariannya. Untuk melestarikan burung tertentu, maka jenis tanaman yang perlu ditanam adalah yang sesuai dengan keperluan hidup satwa yang akan dilindungi atau ingin dikembangkan, misalnya untuk keperluan bersarang, bermain, mencari makan ataupun untuk bertelur. Hutan yang terdapat di pesisir pantai menghasilkan bahan organik. Dedaunan yang jatuh ke air laut kemudian dapat berubah menjadi detritus. Pada permukaan detritus dapat menjumpai mikroorganisme air. Sebagian hewan merupakan pemakan detritus (detritus feeder)
Yang dimaksudkan hutan kota dengan tipe pengamanan adalah jalur hijau di sepanjang tepi jalan bebas hambatan. Dengan menanam perdu yang liat dan dilengkapi dengan jalur tanaman pisang dan tanaman yang merambat dari legum secara berlapis-lapis, akan dapat menahan kendaraan yang keluar dari jalur jalan.

3. Fungsi dan Peranan Hutan Kota

Berdasar Peraturan pemerintah tentang hutan kota, bahwa fungsi hutan kota adalah; memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika, Meresapkan air, Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik Kota dan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Namun demikian terdapat banyak fungsi dan Peranan huta kota baik secara langsung maupun tidak langsung diantaranya adalah; sebagai identitas kota, pelestarian plasma nutfah, penahan dan penyaring partikel padat dari udara baik timbal maupun debu semen, peredam kebisingan, mengurangi resiko hujan asam, penyerap Karbon monoksida, Karbon dioksida dan penghasil Oksigen, penahan angin, penyerap penapis bau, mengatasi penggenangan, mengatasi intrusi air laut, produksi terbatas, pengelolaan sampah, pelestarian air tanah, penapis cahaya silau, meningkatkan keindahan, sebagai habitat burung, menguangi stress, meningkatkan industri pariwisata dan banyak lagi.

III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Kondisi Fisik

1. Letak dan Luas

Kota Tegal merupakan salah satu dari kota dan Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah, secara geografis terletak diantara 1090 08’ 00” BT sampai 1090 10’ 00” BT dan 060 50’ 00” LS sampai 060 53’ 00” LS.
Secara administratif, kota Tegal berbatasan dengan wilayah lain sebagai berikut :
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Dukuh Turi, Kabupaten Daerah Tingkat II Tegal.
• Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Brebes.
• Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal
• Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Laut Jawa.
Gambar 2. Batas Administratif Kota Tegal, Jawa Tengah.
Kota Tegal Memiliki 4 Kecamatan yaitu Tegal Barat, Tegal Timur, Tegal Selatan dan Margadana, jumlah kelurahan sebanyak 27 Kelurahan dengan luas wilayah mencapai 39,68 Km2 atau sekitar 0,11 % dari luas Propinsi Jawa Tengah. Dengan pembagian administrasi Perkelurahan adalah sebagai berikut (dalam Km²) :

Tabel 2. Pembagian Administrasi dan Luas Kelurahan Kota Tegal.
TEGAL SELATAN : 6,43 TEGAL TIMUR : 6,36
1 Kalinyamat Wetan : 0,89 1 Kejambon : 0,86
2 B a n d u n g : 0,59 2 Slerok : 1,39
3 Debong Kidul : 0,35 3 Panggung : 2,23
4 T u n o n : 0.75 4 Mangkukusuman : 0,47
5 Keturen : 0,62 5 Mintaragen : 1,41
6 Debong Kulon : 0,74
7 Debong Tengah : 0,11
8 Randugunting : 1.38

TEGAL BARAT : 15,13 MARGADANA : 11,76
1 Pesurungan Kidul : 0,72 1 Kaligangsa : 2,53
2 Debong Lor : 0,56 2 Krandon : 1,20
3 Kemandungan : 0,56 3 Cabawan : 1,28
4 Pekauman : 0,96 4 Margadana : 2,41
5 Kraton : 1,23 5 Kalinyamat Kulon : 1,52
6 Tegalsari : 2,19 6 Sumurpanggang : 1,00
7 Muarareja : 8,91 7 Pesurungan Lor : 1,82
Sumber : BPS Kota Tegal.

Secara Geografis Kota Tegal memiliki kedudukan yang strategis karena beberapa hal antara lain:
• Terletak pada wilayah yang dilalui jalur ekonomi pantura yang menghubungkan antara Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur
• Sebagai sub pusat pengembangan dalam konsep pewilayahan Provinsi Jawa Tengah.
• Bagian dari pengembangan kawasan andalan BREGAS yang meliputi wilayah Brebes, Tegal dan Slawi.

2. Topografi

Kota Tegal yang berbatasan dengan laut Jawa topografinya didominasi oleh daerah pantai dan daerah dataran rendah. Sebelah utara merupakan daerah pantai yang relatif datar dan disebelah selatan merupakan daerah dataran rendah. Rata-rata elevasi ketinggian di wilayah kota antara 1 - 4 meter dari permukaan laut dan dengan kemiringan sungai yang rata-rata dibawah 0 - 2 meter. Dengan struktur tanah, tanah Pasir dan tanah liat.
Kondisi topografi Kota Tegal sebelah utara yang merupakan daerah pantai menjadikan nilai tambah tersendiri untuk dikembangkan dalam bidang pariwisata pantai bagi Kota Tegal.

3. Iklim

Sesuai dengan letak geografis , iklim di Kota Tegal secara umum sama dengan daerah lain di Indonesia yaitu merupakan iklim daerah tropis. Temperatur udara rata-rata selama tiga tahun dari tahun 2002 cenderung sama yaitu 27,3oC. Tahun 2005 temperatur udara rata-rata per bulan minimum 28,06oC dan maksimum 31,74oC, tingkat kelembabannya pada tahun 2005 sebesar 80% mili bar (mb) hampir sama seperti pada tahun 2004 sehingga Kota Tegal secara umum dapat dikatakan bersuhu udara panas, sedangkan rata-rata hari hujan per bulan pada tahun 2005 adalah 12 hari dengan jumlah curah hujan 159 mm .

B. Kondisi Kependudukan dan Tenaga Kerja

1. Kependudukan

Hasil registrasi penduduk pada akhir tahun 2005 tercatat bahwa jumlah penduduk kota Tegal sebanyak 245.324 Jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata per km2 sebesar 6.183 jiwa, angka kepadatan tertinggi 13.813 jiwa/km2 adalah kelurahan Kejambon dan terendah 632 jiwa/km2 di kelurahan Muarareja dengan Pertumbuhan penduduk rata-rata pertahun sebesar 9.49%.
Kecamatan Tegal Timur merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk terbesar, yaitu 10.916 jiwa/km2, sedangkan kepadatan penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Margadana yang hanya mencapai angka 4.263 jiwa/km2. Tegal Timur merupakan kecamatan dengan kepadatan tertinggi, hal ini disebabkan kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang banyak berpusat di kecamatan Tegal Timur, sehingga memiliki sarana dan prasarana penduduk yang lebih lengkap dibandingkan dengan kecamatan lainnya.

2. Tenaga Kerja

Jumlah usia kerja di Kota Tegal pada tahun 2005 tercatat 211.213 jiwa, dengan jumlah angkatan kerja sebesar 131.838 jiwa atau sekitar 72,89 % , yang terdiri dari 82.434 jiwa laki-laki dan 49.404 jiwa perempuan. Dari jumlah angkatan kerja yang ada sebanyak 121.499 jiwa sudah bekerja dan 10.339 jiwa tidak bekerja.

C. Kondisi Hutan Kota

Tidak Banyak kawasan yang ditetapkan sebagai Hutan Kota atau Taman Kota di Kota Tegal, Taman Poci merupakan taman kecil yang terletak di kecamatan Tegal Timur. Tempat ini digunakan sebagai tempat istirahat dan menambah keindahan sudut kota. Letaknya yang berdekatan dengan UPS (Universitas Panca Sakti), Stasiun Kota Tegal, Pasar malam dan Alun-alun kota menjadikan Taman ini strategis untuk ditempati pedagang lesehan dimalam hari. Sehingga fungsi taman bergeser dan menjadikan taman ini gersang, tandus dan mengurangi keindahannya.

IV. METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2006 sampai dengan bulan November 2006 dengan wilayah penelitian adalah Kota Tega, Jawa Tengah.
Peralatan yang digunakan adalah Perangkat keras berupa Komputer Pribadi, Perangkat Lunak Er-mapper 6.4, Arc View 3.2, Arc Gis 9.0 dan Microsoft Office. Untuk Pengambilan informasi kondisi lapang digunakan GPS (Global Positioning System) model Garmin 76 C, Kamera Digital dan alat tulis. Data penelitian berupa peta RBI digital skala 1 : 250.000 dengan citra satelit yang digunakan adalah citra satelit Quick Bird Ground Data System Akusisi 1 Januari 2005.
Metodologi penelitian meliputi; pengumpulan pembangunan basis data (tabular dan tekstual), pengolahan citra awal, koreksi geometrik, perbaikan citra (image enhancement), pembatasan area penelitian (cropping), pengecekan lapangan (Ground Truthing) dan analisis Visual berupa ekstraksi informasi citra.
Pengumpulan data penunjang merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian. Tahap ini meliputi pengumpulan dan pembangunan basis data baik data citra, peta RBI (Rupa Bumi Indonesia) kawasan Kota Tegal, Peta batas wilayah serta data-data tabular dan tekstual berupa jumlah penduduk, jumlah kendaraan bermotor, jumlah ternak dan industri. Data tersebut diperoleh dari beberapa instansi pemerintah seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kantor SAMSAT BERSAMA, Dinas Perkotaan, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM, Dinas Perhubungan Pariwisata Seni dan Budaya (Dishubparsenbud) dan BAPPEDA Kota Tegal.
Sedangkan langkah-langkahn dalam pengolahan citra adalah sebagai berikut :

1. Pengolahan Citra Awal

Pengolahan citra awal pada dasarnya terdiri dari koreksi citra meliputi koreksi geometrik. Citra satelit umumnya mengandung kesalahan geometris yang dapat disebabkan oleh pengaruh rotasi bumi, kelengkungan bumi, gravitasi bumi, dan perbedaan topografi. Oleh karena itu data citra harus dikoreksi terlebih dahulu sebelum dianalisa lebih lanjut. Koreksi geometrik dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan berbagai distorsi geometrik pada citra citra agar terdapat kesesuaian (matching) antara koordinat citra dengan sistem koordinat peta/citra acuan. Metode pengkoreksian yang dilakukan dengan cara rektifikasi dimana data GPS dari lapangan digunakan sebagai titik ikat citra yang akan dikoreksi.

2. Perbaikan Citra (Image Enhancement)

Perbaikan citra yang dilakukan adalah berupa perbaikan spasial yaitu dengan memberikan efek kontras, penghalusan citra dan perbaikan radiometrik. Penajaman citra dimaksudkan untuk menampilkan citra yang menarik sehingga dapat dengan mudah dapat membedakan obyek yang satu dengan obyek yang lainnya dalam ekstraksi informasi citra. Disamping itu, penajaman citra diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih banyak dan teliti. Proses penajaman citra dapat dilakukan dengan menarik rentangan histogram citra, sehingga semua kelas dapat terwakili oleh kisaran panjang gelombang citra.

3. Pembatasan Areal Penelitian (Cropping)

Setelah proses koreksi geometrik dan Perbaikan citra kemudian dilakukan proses pemotongan citra (Cropping). Pembatasan areal penelitian ini dilakukan untuk memfokuskan areal penelitian sehingga penelitian akan lebih terarah. Selain itu, pembatasan areal penelitian akan membantu dalam proses pengolahan data, karena mengurangi kapasitas simpan data sehingga pengolahan dan penyimpanan data lebih cepat dan mudah.

4. Identifikasi Citra Awal

Kegiatan Identifikasi merupakan langkah awal sebelum dilakukan pengecekan di lapangan, fungsinya sebagai penentuan tempat dan penutupan lahan yang akan dikunjungi untuk pengambilan titik koordinat dan kenampakan di lapangan sehingga lebih efisien dan efektif.

5. Pengecekan Lapangan (Ground Truthing)

Pengumpulan titik GCP (ground control point) yang dilakukan dengan melakukan survey lapangan di daerah penelitian. Kegiatan pengecekan lapangan ini ditujukan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi areal penelitian yang akan digunakan sebagi area contoh dalam proses Interpretasi dan ekstraksi citra secara visual. Pengecekan lapangan ini terdiri dari pengambilan gambar lokasi penelitian dan pengambilan koordinat titik kontrol lapangan secara menyebar rata pada obyek-obyek di lapangan sesuai dengan letak dan karakteristik pada citra.


6. Ekstraksi/ Interpretasi Citra

Proses ekstraksi informasi citra pada prinsipnya adalah menggunakan informasi spasial dari suatu citra dalam rangka membagi/mengelompokan kenampakan yang ada menjadi beberapa kelas yang berbeda dan mempunyai arti terhadap objeknya.
Ada beberapa cara yang digunakan dalam ekstraksi informasi diantaranya adalah dengan cara Kuantitatif/ klasifikasi (Supervised classification atau Unsupervised classification) dengan bantuan komputer dan Interpretasi Visual oleh interpreter (manusia). Hasil yang diperoleh secara visual memiliki tingkat ketelitian yang lebih bagus dibanding dengan klasifikasi. Hal ini disebabkan karena klasifikasi kuantitatif tidak dapat melakukan pembedaan tekstur, bentuk, pola dan bayangan dari objek yang merupakan kunci pokok dalam pengenalan dan pembedaan suatu kenampakan.

Penentuan Luas Hutan Kota
Penentuan luas hutan kota berdasarkan kebutuhan Oksigen (Gerakis, 1974 dalam Wisesa, 1988) dengan perumusan:

Keterangan:
Lt = Luas hutan kota pada tahun ke-t (m2)
At = Jumlah kebutuhan Oksigen bagi penduduk pada tahun ke-t
Bt = Jumlah kebutuhan Oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke-t
Ct = Jumlah kebutuhan Oksigen bagi hewan ternak pada tahun ke-t
Dt = Jumlah kebutuhan Oksigen bagi industri pada tahun ke-t
54 = Konstanta yang menunjukkan bahwa 1m2 luas lahan menghasilkan 54 gr berat kering tanaman per hari
0,9375 = Konstanta yang menunjukkan bahwa 1 gr berat kering tanaman adalah setara dengan produksi Oksigen 0,9375 gr.
Asumsi: Konsumsi Oksigen dalam jumlah yang sama
Suplai Oksigen hanya dilakukan oleh tanaman.

Kebutuhan Oksigen Penduduk
Berdasar data Penduduk Kota Tegal tahun 2000 sampai tahun 2005 yang diperoleh dari BPS Kota, selanjutnya digunakan untuk menduga jumlah penduduk pada tahun-tahun berikutnya.
Dengan persamaannya adalah sebagai berikut:


Keterangan:
Pt + x = Jumlah penduduk pada tahun (t + x)
Pt = Jumlah penduduk pada tahun ( t )
r = Rata-rata persentase pertambahan jumlah penduduk
x = Selisih tahun

Dengan demikian maka akan diketahui jumlah kebutuhan Oksigen penduduk kota pada tahun-tahun mendatang berdasarkan hasil pendugaan jumlah penduduk tersebut.
Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor
Selain manusia, kendaraan bermotor juga membutuhkan Oksigen untuk proses pembakaran bahan bakar. Jumlah Oksigen yang dibutuhkan untuk pembakaran tersebut tergantung pada beberapa faktor, yaitu jenis bahan bakar yang digunakan, jumlah bahan bakar yang dibutuhkan, daya kendaraan, dan lamanya waktu pemakaian (Arismunandar, 1980). Kategori kendaraan bermotor menurut Dispenda Tegal dikategorikan menjadi 4 jenis yaitu:
Kendaraan penumpang
Termasuk dalam kategori mobil berpenumpang kecil, berbahan bakar bensin. Menurut Wisesa, 1988 kendaraan penumpang membutuhkan Oksigen sebesar 11,63 kg/jam dengan waktu aktif kendaraan diasumsikan selama 3 jam/hari.
Kendaraan beban
Termasuk dalam kategori kendaraan komersil ringan seperti pick up, mobil tangki, truk dan mobil derek, dengan bahan bakar bensin. Kendaraan beban membutuhkan Oksigen sebesar 22,88 kg/jam (Wisesa,1988) dengan asumsi kendaraan aktif selama 2 jam/hari.
Bus
Terdiri dari jenis-jenis mobil bus kecil dan mobil bus biasa berbahan bakar solar. Oksigen yang dibutuhkan sebesar 2,77 kg/jam (Wisesa, 1988) dengan waktu aktif kendaraan selama 3 jam/hari.
Sepeda motor
Terdiri dari sepeda motor dan scooter dengan kebutuhan Oksigen 0,58 kg/jam (Wisesa, 1988) dengan waktu aktif kendaraan selama 1 jam/hari.

Berdasarkan jumlah kendaraan bermotor dari tahun 2000 sampai tahun 2005 dengan menggunakan software dataset, dan perhitungan kebutuhan Oksigen kendaraan bermotor, maka dapat diperkirakan jumlah kendaraan bermotor dan kebutuhan Oksigen kendaraan bermotor pada tahun-tahun berikutnya
Kebutuhan Oksigen Binatang Ternak
Seperti halnya manusia, ternak memerlukan Oksigen untuk proses metabolismenya. Berdasarkan nilai kalori yang dibutuhkan untuk metabolisme basal yang dikonversi ke dalam nilai jumlah Oksigen yang dibutuhkan untuk menghasilkan kalori tersebut, maka diperoleh data sebagai berikut, yaitu kerbau dan sapi memerlukan Oksigen sebanyak 1.182 liter/hari (1,702 kg/hari), kuda sebanyak 1.288 liter/hari (1,854 kg/hari) , kambing dan domba 218 liter/hari (0,314 kg/hari), dan ayam 116 liter/hari (0,167 kg/hari) (Wisesa, 1988). Kebutuhan liter/hari tersebut kemudian dikonversi menjadi satuan kg/hari untuk mempermudah dalam perhitungan, dengan faktor konversi yang sama dengan kebutuhan Oksigen penduduk.
Pendugaan kebutuhan Oksigen pada tahun berikutnya, diduga dari jumlah ternak dan kebutuhan Oksigen dari tahun 2000 sampai tahun 2005 dengan menggunakan metode bunga berganda.
Kebutuhan Oksigen Industri
Menurut Ryadi (1984) dalam Wisesa (1988) tiap kg bahan bakar motor diesel, memerlukan 2,86 kg Oksigen. Sedangkan rata-rata kebutuhan bahan bakar untuk mesin-mesin tersebut sebanyak 185,759 kg per hari, maka kebutuhan Oksigen untuk industri sebanyak 529,413 kg/hari.
Pendugaan Ketersediaan Oksigen
Tumbuhan mampu mengubah zat karbondioksida dari udara dan mengubah air dari tanah menjadi karbohidrat dan Oksigen dengan perantaraan klorofil dan bantuan sinar matahari yang disebut dengan proses fotosintesis (Bernatzky, 1978). Adapun proses tersebut dinyatakan sebagai berikut:
6 mol CO2 + 12 mol H2O + 675 kal → 1 mol C6H12O6 + 6 mol O2 + 6 mol H2O
44 g 216 g 180 g 192 g 108 g
Melalui persamaan proses fotosintesis tersebut, maka akan didapatkan rasio antara jumlah karbondioksida yang digunakan dan Oksigen yang dihasilkan pada proses fotosintesis tersebut.
Dengan pengkonversian untuk 1 ha lahan hijau (hutan atau kebun) dengan total luas permukaan daun 5 ha akan membutuhkan 900 kg CO2 untuk melakukan fotosintesis selama 12 jam, dan pada waktu yang sama akan menghasilkan 600 kg O2. Sedangkan pada penutupan lahan Sawah dan lapangan rumput dengan 1 ha akan menghasilkan 1500 kg O2 , semak belukar menghasilkan 1415 kg O2. Data tersebut selanjutnya digunakan untuk menduga ketersediaan Oksigen yang dihasilkan oleh vegetasi (Bernatzky, 1978).

Pembangunan dan Pemodelan Spasial Pengembangan Hutan kota
Pembangunan basis data ini menggunakan peta dijital dengan 8 jenis layer, yaitu layer penduduk, layer kendaraan bermotor, layer ternak, layer industri, layer batas administrasi kelurahan, layer penutupan vegetasi, layer jalan dan layer sungai.
Untuk pemodelan spasial pengembangan hutan kota diperlukan data tabular berupa jumlah penduduk, jumlah kendaraan bermotor, data jumlah ternak dan industri dengan unit per kelurahan, juga data spasial berupa citra satelit Quick Bird.
Selain data tabular ketersediaan Oksigen, juga disusun data tabular jumlah kebutuhan Oksigen. Data tabular dan data spasial tersebut dibuat layer penduduk, layer kendaraan bermotor, layer ternak, dan layer industri yang kemudian dianalisis spasial untuk menghitung kebutuhan Oksigen masing-masing sehingga didapatkan kebutuhan Oksigen total. Sedangkan ketersediaan lahan hijau dilihat dari hasil Ekstraksi (pengolahan citra satelit) yang dianalisis spasial visual.
Layer yang diperoleh dari data tabular (kebutuhan Oksigen) tersebut dioverlay dengan layer tutupan lahan, layer batas administrasi, sungai dan layer jalan sehingga akan didapatkan informasi spasial mengenai kebutuhan hutan kota di kota Tegal.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengolahan Citra

Berdasar hasil kegiatan pengecekan dan interpretasi visual ditentukan kelas-kelas penutupan, yaitu pemukiman, jalan, sungai, tambak, tanah kosong, kebun, rumput dan sawah. Dengan deskripsi kelas kelas penutupan pada Ekstraksi Quickbird
Tabel 1. Kelas Penutupan Lahan Citra QuickBird

No Kelas Penutupan Deskripsi
1. Pemukiman Lahan tempat tinggal dan pusat kegiatan penduduk
2. Kebun Lahan yang ditanami berbagai macam tanaman baik tanaman pertanian, ataupun tanaman keras seperti nagka, mangga, rambutan.
3. Lapangan Rumput Lahan yang ditumbuhi oleh rumput-rumputan dan atau semak belukar.
4. Tanah Kosong Lahan yang tidak ditumbuhi oleh tanaman atau sedikit ditumbuhi, dan tidak digunakan untuk penggunaan lainnya.
5. Sungai Lahan (permukaan) yang selalu dialiri air.
6. Tambak Lahan Berair guna budidaya perikanan
7. Jalan Lahan untuk sarana tranportasi
8. Sawah Lahan pertanian padi, Bawang merah dan Palawija

Keberadaan citra Quick Bird memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pemerolehan data spasial awal penentuan ketersediaan luas hutan kota dan menjadi pembeda dalam perhitungan luas hutan kota tanpa penggunaan citra. Hasil ekstraksi Informasi Quick Bird berupa layer-layer penutupan lahan (sawah, lapangan rumput dan kebun) selanjutnya digunakan untuk analisis ketersediaan Oksigen. Sedang data-data tabulasi (jumlah penduduk, hewan ternak, kendaraan bermotor dan industri) selanjutnya diubah dalam layer penduduk, layer hewan ternak, layer kendaraan bermotor dan layer industri yang digunakan dalam penentuan kebutuhan Oksigen.
Dengan evaluasi keseimbangan kebutuhan dan ketersediaan Oksigen akan diperoleh informasi jumlah ketersediaan hutan kota pada tahun akusisi data citra Quick Bird diperoleh yaitu tahun 2005. Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan citra Quick Bird dibanding dengan citra lain adalah kemudahan dalam memberikan informasi keadaan lapang karena resolusi spasial yang tinggi dapat dengan mudah diinterpretasikan secara visual sehingga pengecekan lapangan tidak harus banyak namun mewakili setiap kelas penutupan lahannya.

B. Kebutuhan Oksigen di Kota Tegal

Kebutuhan Oksigen Penduduk Tahun 2005

Berdasar data dari BPS Kota Tegal, penyebaran jumlah penduduk tertinggi tahun 2005 adalah kecamatan Tegal timur sebesar 73 216 jiwa. Sedang jumlah penduduk kelurahan tertinggi adalah Kelurahan Panggung sebesar 25 988 jiwa, dengan kebutuhan Oksigen sebanyak 22453,63 Kg/hari. Jumlah penduduk terendah dimiliki oleh kelurahan Debong lor sebanyak 3 178 jiwa, dengan kebutuhan Oksigen sebesar 2 745,79 Kg/hari.

Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Tahun 2005

Selain makhluk hidup (manusia), kendaraan bermotor juga membutuhkan Oksigen untuk pembakaran bahan bakar. Jumlah Oksigen yang dibutuhkan tergantung dari jenis bahan bakar, jenis kendaraan dan waktu aktif mesin tersebut. Berikut ini tabel jumlah dan jenis kendaraan bermotor di kota Tegal.
Kebutuhan Oksigen untuk kendaraan bermotor di kota Tegal tahun 2005 mencapai 258 140.83 Kg/hari, kecamatan Tegal Timur memiliki kebutuhan Oksigen kendaraan bermotor tertinggi yaitu 77 011,48 Kg/hari. Sedang untuk kelurahan yang mempunyai kebutuhan Oksigen tertinggi adalah kelurahan Tegal Sari yaitu 24 286,43 Kg/hari dengan jumlah kendaraan bermotor sebanyak 3 580 unit.

Kebutuhan Oksigen Hewan Ternak Tahun 2005

Data ternak yang diperoleh dari BPS kota Tegal terdiri dari sapi, sapi perah, kerbau, kambing, domba, kambing perah, ayam dan itik dengan jumlah pertahun yang fluktuatif. Selanjutnya hewan ternak dikelompokan menjadi 3 berdasar kesamaan dalam kebutuhan Oksigen yaitu Sapi (sapi, sapi perah dan kerbau), Kambing (kambing, kambing perah dan domba) Ayam (ayam dan itik).
jumlah hewan tertinggi adalah kecamatan Margadana yaitu 265 456 ekor dengan jenis terbanyak pertahunnya adalah ayam. Daerah yang mempunyai kebutuhan Oksigen ternak tertinggi juga kecamatan Margadana, karena kebutuhan Oksigen sebanding dengan banyaknya hewan ternak yang ada. Kelurahan dengan kebutuhan Oksigen ternak tertinggi adalah Margadana sebesar 9151.43 Kg/hari.

Kebutuhan Oksigen Industri Tahun 2005

Banyaknya jumlah industri di perkotaan menandakan makin banyaknya kebutuhan Oksigen dan masalah pencemaran di daerah tersebut, Industri memerlukan Oksigen dalam pembakaran mesin mesin produksinya yang sebagian besar adalah mesin motor diesel yang berbahan bakar solar.Daerah yang mempunyai industri yang cukup banyak adalah kecamatan Tegal timur, dengan jumlah industri pada tahun 2005 sebanyak 41 industri. Adapun kelurahan dengan jumlah industri tertinggi pada tahun 2005 adalah Pekauman sebanyak 20 unit.
Jumlah Oksigen yang dikonsumsi terbanyak oleh Industri sebanyak 10588,26 Kg/hari yaitu di kelurahan Pekauman. Sedang kecamatan Tegal timur mengkonsumsi Oksigen sebesar 21705,93 Kg/hari. kecamatan Margadana memiliki jumlah industri paling sedikit yaitu 6 industri meskipun luas wilayah mencapai 11,76 Km2 gambaran ini mencirikan bahwa pertumbuhan wilayah Margadana kurang dibanding dengan 3 kecamatan yang lain.
Kebutuhan Oksigen masing-masing kecamatan berbeda-beda, dengan tingkat konsumsi Oksigen yang berbeda pula. Pada beberapa kelurahan, seperti Kelurahan Pekauman, kebutuhan Oksigen industri lebih tinggi daripada kebutuhan Oksigen kendaraan yaitu sebesar 14029,34 Kg/hari, sedang kebutuhan kendaraan Pekauman sebesar 8386,20 Kg/hari . Namun pada kelurahan lain, kebutuhan Oksigen kendaraan bermotor lebih tinggi daripada kebutuhan Oksigen industri dan penduduk. Namun bila dilihat secara keseluruhan dalam satu kecamatan, kebutuhan Oksigen kendaraan bermotor mengkonsumsi Oksigen yang paling tinggi dibanding dengan faktor penduduk, hewan ternak dan Industri.

C. Luas Hutan Kota Berdasar Kebutuhan Oksigen

Kebutuhan Luas Hutan Kota dan RTH Tahun 2005

Perhitungan luas hutan kota menggunakan metode Gerrakis, diperoleh dengan mengetahui jumlah Konsumsi Oksigen oleh penduduk, kendaraan bermotor, hewan ternak, dan industri. Metode ini digunakan dengan asumsi bahwa konsumsi Oksigen sama, dan suplai Oksigen hanya dilakukan oleh tanaman (hutan, kebun, sawah, rumput dan pohon).
Hasil perhitungan luas hutan kota berdasarkan kebutuhan Oksigen maka luas hutan kota yang dibutuhkan kota Tegal pada tahun 2005 sebanyak 1138,08 Ha ( 29%) dari total luas Kota Tegal 3914.68 Ha . Kelurahan dengan kebutuhan hutan kota paling luas yaitu kelurahan Panggung seluas 109,99 Ha, karena di kelurahan ini konsumsi Oksigen industri cukup tinggi yaitu sekitar 55 682 Kg/hari, terutama konsumsi Oksigen oleh kendaraan bermotor sebanyak 27335 Kg/hari. Hal lain bahwa ruang terbuka hijau di kelurahan Panggung lebih sedikit sehingga produksi Oksigen dari tanaman lebih rendah dari pada kebutuhan Oksigen.
Adapun kecamatan yang membutuhkan hutan kota paling luas adalah kecamatan Tegal Timur sebesar 323,32 Ha atau sekitar 28.40% dari total hutan kota yang dibutuhkan. Semakin tinggi kebutuhan Oksigen suatu daerah maka semakin tinggi pula kebutuhan akan luas hutan kota. Perhitungan luas hutan kota pada tahun-tahun yang akan datang mengalami kerancuan dimana kebutuhan Oksigen yang meningkat dibarengi dengan kebutuhan hutan kota meningkat namun melebihi dari luas wilayah administrasi daerah itu sendiri. Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada penelitian ini dibatasi untuk ruangan bervegetasi hijau dengan tutupan lahan berupa pohon, kebun, sawah dan rumput. RTH yang terdapat di kota Tegal tahun 2005 seluas 1889,38 Ha atau 48,26% dari luas kota Tegal.
Kelurahan yang mempunyai kebutuhan hutan kota yang tinggi umumnya terdapat di kecamatan yang merupakan pusat aktivitas yang membutuhkan konsumsi Oksigen yang tinggi, seperti Kelurahan Panggung, dan Mintaragen yang terdapat di Kecamatan Tegal Timur, yang merupakan kawasan padat penduduk dan padat akan kendaraan. Selain itu kebutuhan hutan kota yang tinggi juga terdapat di kelurahan Tegalsari yang terletak dekat dengan pusat kota, padat penduduk dan minim akan penutupah lahan bervegetasi. Tegalsari pada tahun 2005 membutuhkan hutan kota seluas 98,6 Ha yang merupakan kelurahan tertinggi kedua setelah Panggung dalam kebutuhan hutan kota.

Prediksi Kebutuhan Luas Hutan Kota Tahun 2008, 2010, 2012 dan 2014

Berdasarkan informasi data kebutuhan Oksigen pada tahun 2008, 2010, 2012 dan 2014 maka hutan kota yang dibutuhkan dapat dihitung. Kebutuhan hutan kota meningkat berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan Oksigen. Pada tahun 2005 kebutuhan hutan kota seluas 1138,08 Ha dan meningkat dua kali pada tahun 2014 yaitu seluas 2579,35 Ha.
Hasil perhitungan luasan hutan kota dengan metode Gerrakis yang diperoleh pada tahun tersebut masih dapat memenuhi kebutuhan luasan hutan kota, karena dalam perhitungan kebutuhan Oksigen diasumsikan bahwa kabupaten merupakan suatu ekosistem tertutup sehingga suplai Oksigen hanya dilakukan oleh vegetasi yang terdapat diwilayah kota Tegal.

Keseimbangan RTH Tahun 2005

Penghitungan keseimbangan RTH menggunakan pendugaan ketersediaan Oksigen ini dihitung dengan menselisihkan antara ketersediaan Oksigen dari setiap RTH dengan kebutuhan Oksigen total (kg/hari). Hasil Interpretasi kelas informasi yang diturunkan dari citra Quick Bird adalah sawah, Lapangan rumput, dan kebun. Luas RTH kota Tegal dari hasil Interpretasi visual sebesar 1889,38 Ha.
Dengan asumsi yang digunakan adalah RTH (Sawah, Lapangan rumput dan Sawah) yang akan memberikan kontribusi Oksigen. Jumlah Oksigen total yang dihasilkan oleh RTH di kota Tegal pada tahun 2005 sebanyak 1 133 628 Kg/hari
Total kebutuhan RTH kota Tegal berdasarkan hasil selisih antara kebutuhan dan ketersediaan Oksigen ini adalah 557 476,9Kg/hari (929,13 Ha). Adapun jumlah total kebutuhan Oksigen kota Tegal, pada tahun 2005 adalah 576 151,10 Kg/hari. sedangkan jumlah Oksigen total yang dihasilkan oleh RTH kota Tegal pada tahun 2005 sebanyak 11 333 628,0 kg/hari. Berdasarkan data tersebut, maka pada tahun 2005, suplai Oksigen dari RTH yang ada masih mencukupi kebutuhan Oksigen kota Tegal . Namun bila dilihat per kelurahan, terdapat kelurahan dengan kebutuhan Oksigen yang lebih besar daripada ketersediaan Oksigennya.
Kecamatan yang memiliki keseimbangan RTH yang paling tinggi adalah Kecamatan Margadana, seluas 619,53 Ha. Sedangkan kecamatan dengan keseimbangan RTH yang paling kecil adalah Kecamatan Tegal Timur, yaitu seluas 16,95Ha. Hal ini disebabkan kecamatan Tegal Timur terletak di pusat kota, sehingga ketersediaan RTH sangat kecil karena telah dikonversi menjadi lahan pemukiman, pusat perbelanjaan, dan fasilitas lain yang mendukung aktivitas ekonomi penduduk .

Prediksi Keseimbangan RTH Tahun 2008,2010, 2012 dan 2014
Berdasarkan data hasil perhitungan kebutuhan Oksigen pada tahun 2005, 2008, 2010, 2012 dan 2014 dimana diasumsikan bahwa luas RTH tidak berubah baik penambahan ataupun pengurangan luas, maka kebutuhan Oksigen terus bertambah pula. Maka jumlah total kebutuhan Oksigen kota Tegal, pada tahun 2008 adalah 730.402,74 Kg/hari, tahun 2010 sebanyak 875.310,98 Kg/hari, tahun 2012 sebanyak 1.062.736,78 Kg/hari dan pada tahun 2020 menjadi 1.305.794,38 Kg/hari. Sedang Jumlah Oksigen total yang dihasilkan oleh RTH kota Tegal sebanyak 1.133.628,00 Kg/hari. Maka berdasarkan data tersebut diperkirakan keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan Oksigen masih terpenuhi sampai tahun 2012. Pada tahun 2014 Keseimbangan antara ketersediaan dengan kebutuhan Oksigen sudah mengalami kepincangan dimana ketersediaan mengalami kekurangan Oksigen sebesar 172.166,38 Kg/hari.
Meskipun kecamatan Margadana tidak menyinggung garis keseimbangan. Sedang kecamatan Tegal Timur merupakan wilayah dengan keseimbangan paling kecil. Ruang Terbuka Hijau (RTH) masing-masing wilayah berbeda sesuai dengan ketersediaan dan kebutuhan Oksigen wilayah tersebut. Selisih antara ketersediaan dan kebutuhan Oksigen akan menghasilkan luas RTH yang dibutuhkan. Sedangkan bila terjadi kebutuhan Oksigen lebih besar daripada ketersediaannya, maka akan terdapat kekurangan antara kebutuhan dan ketersediaan Oksigen. Seperti yang terdapat pada Kelurahan Panggung, Mintaragen, Slerok dan kelurahan lainnya

Analisis Pengembangan Hutan Kota.
Tujuan pengembangan hutan Kota di wilayah kota Tegal pada dasarnya merupakan upaya untuk mengoptimalkan manfaat tata hijau kota berdasar fungsi ekologis, klimatologis dan estetika bagi penduduk kota. Sehingga dapat meningkatkan fungsi dan peranan kota dalam menanggulangi dampak negatif lingkungan di wilayah perkotaan.
Berdasarkan data keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan Oksigen kota Tegal maka diprediksi sampai tahun 2012 keseimbangan masih terpenuhi. Tahun 2014 ketidakseimbangan mulai muncul dimana kebutuhan Oksigen melebihi dari suplai Oksigen vegetasi. Dengan demikian sangat penting untuk memperhatikan faktor-faktor konsumsi Oksigen, yaitu penduduk, kendaraan bermotor, hewan ternak dan industri yang terus meningkat. Kendaraan bermotor merupakan konsumen Oksigen yang paling tinggi diantara 4 faktor utama tersebut













Gambar 8. Grafik Keseimbangan RTH Tahun 2005, 2008, 2010, 2012 dan 2014.

Tingginya konsumsi Oksigen kendaraan bermotor disebabkan oleh jumlah kebutuhan Oksigen kendaraan bermotor yang terus meningkat, selain juga dipicu oleh ketidaknyamanan menggunakan kendaraan umum sehingga tingkat pemakaian mobil pribadi semakin tinggi. Seperti angka kepemilikan sepeda motor yang meningkat selain merupakan kendaraan alternatif juga asumsi masyarakat bahwa sepeda motor bukanlah barang mewah tetapi keharusan untuk kemudahan transportasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dispenda Tegal, jumlah kendaraan bermotor dari tahun 2000 sampai dengan 2005, telah meningkat lebih dari dua kali lipat (236%) dari 16 063 menjadi 38 053 buah. Selain konsumsi Oksigen yang cukup tinggi, gas buang kendaraan bermotor seperti gas Karbondioksida (CO2), gas Karbonmonoksida (CO), dan Timbal (Pb), sangat berbahaya bagi lingkungan yaitu menurunnya kualitas udara sehingga mengganggu kesehatan manusia.
Alternatif yang dapat dilakukan dengan mengganti bahan bakar yang lebih ramah lingkungan (bahan bakar gas, Bio-solar, listrik, tenaga surya) meskipun akan membutuhkan waktu yang lama, mengganti armada angkutan lama yang boros bahan bakar dengan kendaran baru yang efisien hemat bahan bakar dan baik gas buangan. Sedangkan untuk menekan laju pertumbuhan kendaraan bermotor dengan membatasi jumlah kendaraan sangatlah sulit, karena sarana transportasi sangatlah vital bagi aktivitas penduduk. Peran dan kebijakan pemerintah setempat merupakan alternatif dan jawaban untuk menahan laju pertumbuhan kendaraan penumpang.
Selain kendaraan bermotor, Konsumsi Oksigen terbesar kedua adalah Penduduk. Pengembangan hutan kota harus tetap dilakukan mengingat laju populasi penduduk terus bertambah serta perkembangan dan pembangunan kota yang mengakibatkan pengkonversian lahan bervegetasi semakin cepat guna pembangunan fisik kota dan pemukiman. Pertambahan ini disebabkan oleh jumlah natalitas (kelahiran) mobilitas (perpindahan) dan lainnya. Fenomena pertambahan penduduk perlu diperhatikan dan dipecahkan solusinya untuk membatasinya, baik dengan cara menjalankan program keluarga berencana pemerataan penduduk dengan wilayah yang kurang padat, ataupun program menanam pohon untuk setiap kelahiran yang terjadi. Dengan demikian produksi Oksigen akan bertambah seiring dengan angka kelahiran tersebut. Sama halnya dengan kebutuhan Oksigen industri, sebaiknya menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan tingkat konsumsi Oksigen yang lebih kecil. Selain itu luas industri terbangun harus menyisakan sebidang ruang terbuka untuk pembangunan kawasan bervegetasi hijau atau hutan kota tipe industri guna penyeimbang konsumsi Oksigen industri dan membantu mengurangi polusi dari industri selain juga sebagai tempat istirahat bagi pekerjanya.
Berdasar kebutuhan Oksigen dari 4 faktor tersebut maka luas hutan kota minimal di kota Tegal pada tahun 2005 seluas 1138,08 Ha sekitar 29% dari luas kota Tegal. agar dapat memenuhi kebutuhan Oksigen. Sedang untuk tahun 2014 minimal mencapai angka 2579,35 Ha (65,89%) untuk dapat memenuhi kebutuhan Oksigen.
Melihat permasalahan diatas, maka peranan hutan kota harus optimal, misalnya dengan membangun hutan kota dengan tanaman yang mempunyai toleransi terhadap polutan yang tinggi dan dapat memproduksi Oksigen dalam jumlah yang besar seperti damar (Agathis alba, Agathis dammara), bunga kupu-kupu (Bauhenia purpurea), Akasia (Acacia auriculiformis), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), dan beringin (Ficus benyamina).
Bentuk dan tipe hutan kota yang akan dibangun harus diperhatikan karena bentuk dan tipe hutan kota yang tepat selain berfungsi utama sebagai penghasil Oksigen juga meningkatkan keserasian dan keindahan kota itu sendiri. Untuk penambahan kawasan hutan kota di pusat kota dapat memanfaatkan lahan kosong dan lahan ruas jalan dengan tanaman hias. Penghijauan pekarangan rumah dan sempadan sungai merupakan alternatif lain selain pembangunan hutan kota di pusat kota. Cara lain adalah dengan mempertahankan daerah penyangga di sekitar kota itu sendiri, sehingga kebutuhan Oksigen tetap terpenuhi.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

1. Berdasar kebutuhan Oksigen di kota Tegal, maka luas minimal hutan kota di kota Tegal pada tahun 2005 seluas 1138,08 Ha atau 29% dari luas kota Tegal, sedangkan luas untuk tahun 2014 adalah 2579,35 Ha (65,89%) untuk dapat memenuhi kebutuhan Oksigen kota Tegal.
2. Kelurahan yang memiliki kebutuhan hutan kota paling luas adalah kelurahan Panggung, seluas 109,99 Ha, sedangkan untuk kecamatan adalah kecamatan Tegal Timur seluas 323,32 Ha( 28.40% dari total hutan kota yang dibutuhkan)
3. Kecamatan yang memiliki keseimbangan RTH yang paling tinggi adalah Kecamatan Margadana, seluas 619,53 Ha. Sedangkan kecamatan dengan keseimbangan RTH terendah adalah Kecamatan Tegal Timur seluas 16,95 Ha
4. Pengkonsumsian Oksigen yang paling berpengaruh terhadap kebutuhan luas hutan kota di Kota Tegal adalah kendaraan bermotor 60303,37 Kg/hari (50%), penduduk 49518,43 Kg/hari (41%), industri 9000,02 Kg/hari (7%), dan ternak 2470,87 Kg/hari (2%).
5. Secara keseluruhan hutan kota adalah bagian dari Ruang Terbuka Hijau suatu wilayah dengan fungsi keindahannya hutan kota harus tetap ada meskipun dengan luasan yang sempit

B. Saran
1 Perlunya kebijakan pemerintah dalam menangani jumlah kendaraan, penduduk industri dan hewan ternak. untuk Laju pertumbuhan kendaraan bermotor pemerintah dapat menahan dengan menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman dan murah.
2. Pengembangan hutan kota sebaiknya diarahkan di daerah pusat kota yang memerlukan penghijauan di ruas jalan raya, bantaran sungai, tanah kosong, dan kawasan industri

DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, Wiranto dan K. Tsuda. 1976. Motor Diesel Putaran Tinggi. Pradnya Paramita. Jakarta.

Badan Pusat Statistik Kota Tegal, 2001. Tegal Dalam Angka 2000. Tegal.

Badan Pusat Statistik Kota Tegal, 2002. Tegal Dalam Angka 2001. Tegal.

Badan Pusat Statistik Kota Tegal, 2003. Tegal Dalam Angka 2002. Tegal.

Badan Pusat Statistik Kota Tegal, 2004. Tegal Dalam Angka 2003. Tegal.

Badan Pusat Statistik Kota Tegal, 2005. Tegal Dalam Angka 2004. Tegal.

Badan Pusat Statistik Kota Tegal, 2006. Tegal Dalam Angka 2005. Tegal.

Bappeda Kota Tegal. 2004. Revisi Rencana. Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tegal Tahun 2004. Tegal

Bernatzky, A. 1978. Tree Ecology and Preservation. Elsevier Scientific Publishing Company. Amsterdam-Oxford-New York.

Dahlan, E.N. 1992. HUtan Kota Untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. IPB. Bogor.

Departemen Kehutanan, 2002. Hutan Kota. http://www.dephut.go.id/informasi/HUTKOT/hutkot.html

Dewanti, R.D. dan M. Dimyati. 1998. Remote Sensing dan Sistem Informasi Geografis untuk perencanaan. Fakultas Teknik Universitas Muhamadiyah Jakarta. Jakarta.

Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Tegal. 2005. Database Profil Industri dagang Kecil Menengah. Tegal.

El Lestari R. Assyifa 2005. Analisis Spasial Penentuan Luas Hutan Kota Minimal Menggunakan SIG dan Data Penginderaan Jauh (Studi Kasus Kotamadya Bogor). Skripsi. Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Eurimage Product and service, 2006. QuickBird Image. http://www.eurimage.com/Products/qb.shtml

Instruksi Menteri Dalam Negeri No.14 Tahun 1988 Tentang Hutan Kota.

Irwan, Z.D.1998. Tantangan Lingkungan dan Lansekap Hutan Kota. Pustaka Cidesindo. Jakarta

Kantor SAMSAT Bersama Kota Tegal. 2006. Laporan Tahunan Pajak Kendaraan Bermotor Kota Tegal. Tegal.

Lillesand, T. M and R. W. Kiefer. 1979. Remote Sensing and Image Interpretation. John Willey and Sons. New York.

Nugraha, 1991. Pengembangan Hutan kota dalam pengembangan wilayah hutan kota Serang dan Cilegon. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan , Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota.

Satellite Imaging Corporation, 2006. Satellite Images: QuickBird, IKONOS, LANDSAT. http://www.satimagingcorp.com/gallery.html

Wisesa, S. P. Candra. 1988. Studi Pengembangan Hutan Kota di Wilayah Kotamadya Bogor. Skripsi. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar